05 Dec 2019

SYNDICATED LOAN : INSTRUMEN KREDIT YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM PEMBIAYAAN AKUISISI

Dalam dunia bisnis di era 4.0 ini, diperlukan strategi bisnis yang tepat agar suatu bisnis bisa survive ditengah kompetisi yang semakin ketat. Para pelaku bisnis (dalam hal ini adalah perusahaan) berlomba-lomba untuk melakukan ekspansi bisnisnya seluas mungkin baik yang dilakukan secara Internal maupun Eksternal. Konsekuensi ekspansi tersebut secara Internal bagi pelaku bisnis, dapat menambah jumlah cabang atau jenis produk. Berbeda halnya jika ingin memperluas bisnisnya ke sektor bisnis yang berbeda, maka pelaku bisnis dapat mengambil langkah akuisisi terhadap suatu perusahaan yang bergerak pada suatu sektor bisnis yang dianggap strategis. Akuisisi merupakan proses pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan oleh perusaahaan lain, sehingga perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah.

5 Common Pitfalls in Acquisition 

Proses akuisisi dirasa sebagai suatu langkah yang tepat dalam melakukan ekspansi usaha, namun proses akuisisi tentunya memerlukan biaya yang sangat besar terlebih lagi jika yang akan diakuisisi adalah perusahaan yang memiliki aset yang bernilai tinggi. Bagi pelaku bisnis yang memiliki struktur permodalan yang mencukupi tentunya hal ini tidak menjadi masalah, namun hal tersebut berbeda bagi pelaku bisnis dengan skala menengah ataupun skala kecil. Olehkarenanya para pelaku bisnis perlu mempertimbangkan dengan seksama mengenai sumber dana dalam melakukan akuisisi.

Workshop on Acquisition Master Class

Pembiayaan akuisisi memungkinkan pelaku bisnis untuk memenuhi aspirasi akuisisi mereka saat ini dengan menyediakan sumber dana langsung yang dapat diterapkan pada proses transaksi akuisisi, yang mana pada prakteknya para pelaku bisnis dapat memanfaatkan instrumen-instrumen kredit yang ada termasuk pula instrumen kredit sindikasi atau yang biasa disebut dengan ‘Syndicated Loan’. Pada dasarnya, Syndicated Loan adalah fasilitas kredit yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dana dalam jumlah besar dan tidak dapat dipinjam hanya dari satu kreditor, sehingga untuk menyediakan sejumlah dana yang besar tersebut di-supply oleh berberapa kreditor yang dihimpun oleh fasilitator kredit. Secara hukum belum ada peraturan hukum yang mengatur secara tegas mengenai praktek Syndicated Loan, namun di Indonesia sendiri praktek ini sudah diakomodasi dalam Peraturan Bank Indonesia No. 7/14/PBI/2005 tentang Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/23/DPD tertanggal 8 Juli 2005.

Workshop Loan Documentation

Hal yang membedakan Syndicated Loan dengan instrumen kredit lainnya adalah, dalam Syndicated Loan terdiri dari beberapa kreditur (lenders) yang berpartisipasi untuk memberikan pinjaman kepada seorang debitur (borrower). Selain itu hubungan antara debitur dengan para kreditur difasilitasi oleh pihak ketiga (arranger) yang menjadi perantara dalam menghimpun dan menyalurkan pinjaman. Untuk memperoleh Syndicated Loan, terdapat 3 (tiga) tahapan yang harus dilalui mulai dari munculnya arranger (pre-mandate phase) sampai suatu perjanjiannya (facility agreement) ditandatangani (post-mandate phase) dan akhirnya Syndicated Loan dapat digunakan oleh debitur (post-signing phase).

Melihat skema yang ditawarkan oleh Syndicated Loan diatas, maka hal ini dapat menjawab permasalahan pelaku usaha dengan skala menengah yang ingin melakukan akuisisi namun terhalang oleh adanya batas Batas Maksimal Penyaluran Kredit (BMPK) yang ditetapkan oleh pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat