MEMBEDAH KEWENANGAN PROJECT OWNER BERDASARKAN STANDAR FIDIC RED BOOK

29 Nov 2019

MEMBEDAH KEWENANGAN PROJECT OWNER BERDASARKAN STANDAR FIDIC RED BOOK

Berdasarkan kontrak konstruksi dengan standar Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils (“FIDIC”), telah ditentukan secara rinci terkait dengan wewenang dan tanggung jawab para pihak dalam sebuah proyek konstruksi. Tugas, kewenangan, dan tanggung jawab tersebut dapat  disesuaikan dengan jenis kotrak konstruksi yang dipilihberdasarkan kesepakatan para pihak.

MENGENAL FIDIC RAINBOW SUITE BOOK

FIDIC Red Book/Buku Merah merupakan salah satu standar kontrak konstruksi yang paling umum digunakan oleh Project Owner pada proyek konstruksi di bidang teknik sipil. Hal ini dikarenakan substansi kontrak ini lebih menitikberatkan pada peran Project Owner adalah fokus dalam mendesain dan merencanakan sebuah proyek konstruksi. Sedangkan peranan kontraktor hanya terbatas pada melakukan desain, melaksanakan dan menyelesaikan perkerjaan sesuai dengan kontrak dan perintah engineer serta harus memperbaiki cacat mutu dalam pekerjaan konstruksi.

WORKSHOP KONTRAK KONSTRUKSI INTERNASIONAL : FIDIC STANDARD

Melihat peran dominan yang dimiliki oleh Project Owner, maka untuk melaksanakan peranan tersebut, perlu adanya pembatasan sehingga tidak terjadi ketimpangan diantara para pihak sebagaimana equilibrium-principle (asas kesetaraan) dalam kontrak.

Sesuai ketentuan kontrak dengan standar FIDIC Red Book, Project Owner dapat menunjuk dan mendelegasikan tugas-tugas pengawasan kepada engineer maupun personil yang akan mewakilinya untuk memastikan bahwa dalam pelaksanaan proyek sudah sesuai dengan isi kontrak dan keinginan dari Project Owner itu sendiri. Adapun kewenangan yang dimiliki oleh Project Owner di antara nya adalah:

WORKSHOP EPC CONTRACT

  • Memiliki akses penuh untuk memasuki lapangan/lokasi proyek konstruksi;berhak untuk memeriksa, menginspeksi, mengukur dan menguji bahan dan tata cara pengerjaan, dan memeriksa kemajuan proyek;
  • meminta Kontraktor untuk memperbaiki kegagalan dan kerusakan dalam waktu yang ditetapkan;
  • menolak hasil dari suatu pengujian, pemeriksaan, pengukuran atau pengetesan, suatu Instalasi Mesin, Bahan atau cara pengerjaan apabila ditemukan cacat atau ketidaksesuaian dengan Kontrak;
  • dapat setiap saat memerintahkan Kontraktor untuk menghentikan kemajuan suatu bagian Pekerjaan atau seluruh Pekerjaan dengan alasan-alasan tertentu yang dapat dijelaskan oleh Project Owner;
  • memutus Kontrak jika Kontraktor terlibat korupsi, kecurangan, kolusi atau praktek kekerasan, dalam persaingan atau dalam pelaksanaan Kontrak.

Kewenangan yang dimiliki oleh Project Owner sebagaimana disebutkan diatas dapat diberlakukan pada saat tanggal dimulainya pekerjaan hingga diterbitkannya Berita Acara Serah Terima Pekerjaan oleh kontraktor.

WORKSHOP KONTRAK KONSTRUKSI : CONSTRUCTION DISPUTE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat