Penyebab Terjadinya Claim dalam Proyek Jasa Konstruksi

21 Jan 2020

Penyebab Terjadinya Claim dalam Projek Jasa Konstruksi

Berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi disebutkan bahwa Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultansi konstruksi dan/atau pekerjaan konstruksi. Kemudian dalam pelaksanaannya, industri jasa konstruksi melibatkan para pihak yang diantaranya meliputi pengguna jasa Konstruksi (“project owner”), penyedia jasa konstruksi (“contractor”), sub-penyedia jasa konstruksi (“sub-contractor”), maupun pemasok bahan (“supplier”). Apabila dibandingkan dengan sektor lainnya, Industri jasa konstruksi adalah salah satu sektor yang memiliki faktor risiko dengan tingkat ketidak pastian yang cukup tinggi.

Workshop EPC Contract

Risiko yang terkandung dalam industri jasa konstruksi tersebut berpotensi untuk memicu terjadinya sengketa diantara para pihaknya. Semakin besar nilai dan panjang durasi dari suatu proyek konstruksi, maka akan semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya sengketa (Flanagan dan Norman, 1993). Sengketa jasa konstruksi biasanya disebabkan karena adanya klaim konstruksi dari salah satu pihak yang tidak terselesaikan secara sempurna. Black’s Law Dictionary mendefinisikan klaim sebagai berikut :

“Claim is a legal assertion; a legal demand; Taken by a person wanting compensation, payment, or reimbursement for a loss under a contract, or an injury due to negligence..”

Dari definisi yang disebutkan diatas dan dikaitkan dengan jasa konstruksi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa klaim konstruksi adalah permintaan atau tuntutan yang muncul atas keadaan yang timbul dari pelaksanaan sebuah proyek konstruksi antara project owner dan contractor maupun dengan sub-contractor atau supplier.

Workshop Kontrak Konstruksi Standart Internasional (FIDIC sebagai suatu refrensi)

Sebab-Sebab terjadinya Claim

Terkait dengan asal-muasal timbulnya klaim dalam sebuah proyek konstruksi, Prof. H. Priatna Abdulrasyid menyatakan bahwa ada beberapa sebab terjadinya klaim, yaitu:

  1. Informasi desain yang tidak tepat (delayed design information);
  2. Informasi design yang tidak sempurna (Inadequate design information);
  3. Investigasi lokasi yang tidak sempurna (Inadequate site insvetigation);
  4. Reaksi client yang lambat (Slow client response);
  5. Komunikasi yang buruk (Poor Communication);
  6. Sasaran waktu yang tidak realistis (Unrealistic time targets);
  7. Administrasi kontrak yang tidak sempurna (Inadequate contract administration);
  8. Kejadian ekstern yang tidak terkendali (Uncontrollabe external events);
  9. Informasi tender yang tidak lengkap (incomplete tender information);
  10. Alokasi risiko yang tidak jelas (Unclear risk allocation);
  11. Keterlambatan atau ingkar-membayar (Lateness or non-payment).

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa klaim dapat terjadi karena sebab-sebab yang timbul dari project owner maupun dari contractor atau sebab-sebab lain. Alasan inilah yang mendasari bahwa klaim merupakan sesuatu yang sering terjadi dalam sebuah proyek konstruksi, sehingga klaim harus direspon dan ditangani dengan baik oleh para pihak.

Workshop Commercial Contract Drafting

Apabila klaim yang diajukan oleh salah satu pihak tersebut dapat tertangani dengan baik dan benar serta tidak menimbulkan suatu kerugian, maka klaim tersebut akan berubah menjadi perintah baru dalam sebuah proyek konstruksi. Lain halnya apabila klaim tersebut tidak tertangani dengan baik, maka klaim tersebut akan menimbulkan sebuah akibat hukum berupa sengketa atau perselisihan karena ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Sengketa atau perselisihan yang muncul akibat tidak dipenuhinya klaim oleh salah satu pihak harus diselesaikan melalui jalur hukum yang telah dipilih ditentukan kontrak kerja konstruksi baik melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa, Arbitrase, maupun melaui Pengadilan. Apabila terjadi sengketa dalam sebuah proyek konstruksi, tentunya akan berpengaruh pada biaya yang harus dikeluarkan, waktu pengerjaan proyek, serta reputasi para pihak. Untuk itu sebuah klaim konstruksi harus ditangani dengan baik dan sebisa mungkin para pihak menanggulanginya agar tidak menjadi sengketa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat