05 Dec 2019

KENALI JENIS PERJANJIAN SEWA DALAM JASA PENYEWAAN ALAT TAMBANG

 

Dalam bisnis di sektor pertambangan batu bara, keberadaan alat tambang yang berteknologi tinggi sangat penting dan berperan untuk mendukung produktifitas. Kebutuhan alat tambang bagi  masing-masing perusahaan tambang relatif berbeda tergantung pada kondisi proyek pertambangannya. Secara umum alat-alat tambang tersebut dapat dibedakan menjadi Alat Tambang Utama (ATU) dan Alat Penunjang Tambang (APT).

Update Peraturan : Good Mining Practice di Indonesia

Kebutuhan jasa alat tambang didalam bisnis pertambangan batubara adalah bersifat mutlak.  Pengadaan alat tambang bagi perusahaan tambang secara swakelola (membeli langsung) tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan bahkan memperbesar cost yang harus dikeluarkan untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap alat-alat tambang yang digunakan. Terlebih lagi apabila usaha penambangan tersebut bersifat temporary yang dibatasi oleh masa berlaku Izin Usaha Pertambangan (IUP) Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), maka dengan alasan tersebut pengadaan alat tambang secara mandiri menjadi tidak efektif.

Mengenal Due Dilligence di Industri Pertambangan

Konsekuensi dari kondisi tersebut, saat ini telah muncul banyak sekali perusahaan-perusahaan yang menawarkan jasa penyewaan alat tambang kepada perusahaan tambang. Jasa penyewaan alat tambang adalah suatu jasa untuk mengalihkan  penguasaan dan penggunaan atas suatu alat tambang kepada pihak lain selama jangka waktu tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh perusahaan tambang selaku pihak penyewa dan diikat dalam suatu perjanjian. Terdapat 2 (dua) pihak dalam skema jasa penyewaan alat tambang yaitu “lessee” sebagai peminjam alat tambang (pengguna jasa penyewaan alat tambang) dan “lessor” sebagai yang meminjamkan alat tambang (penyedia jasa penyewaan alat tambang). Penggunaan skema ‘sewa-menyewa alat tambang’ akan bermanfaat bagi perusahaan tambang karena dapat memperhitungkan biaya yang harus dikeluarkan dan dapat disesuaikan dengan proyeksi pendapatannya sehingga hal ini penting untuk dapat memangkas anggaran (budget) dan meminimalisir potensi kerugian. Olehkarenanya, terdapat 2 skema penyewaan alat tambang yang bisa digunakan perusahaan tambang sebagai berikut.

Workshop Contract Drafting in Mining Industry

Menyewa alat tambang dengan skema leasing

Skema leasing atau sewa biasa, perusahaan tambang wajib menyediakan operator crew serta melakukan perawatan alat tambang secara mandiri, dimana seluruh biayanya ditanggung oleh lessee. Terdapat suatu hal menarik, mengenai tanggungjawab atas penggunaan alat tambang dari kerusakan, yang mana tanggungjawab sepenuhnya menjadi tanggungan lessor.

Workshop Due Dilligence for Mining Industry

Skema wet lease bagi perusahaan tambang ingin menghindari risiko

Skema wet lease merupakan skema yang sering digunakan oleh perusahaan tambang batu bara karena dianggap lebih efisien dalam segi perhitungan biaya. Efisiensi harga tersebut dikarenakan seluruh biaya penyediaan bahan bakar/fuel, perawatan, kerusakan alat dan penyediaan operator crew menjadi tanggung jawab dari pihak yang memiliki alat tambang lessor. Berbeda halnya bagi perusahaan tambang selaku penyewa alat tambang lessee hanya bertanggung jawab terhadap kegiatan operasi saja. Berdasarkan hal tersebut, apabila masa sewa alat tambang sudah berakhir lessor hanya menerima pembayaran bersih dan lessee  cukup membayarkan sesuai dengan jumlah tagihan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat